Arief Rachman Julfikar
Blog Universitas Komputer Indonesia

konvergensi media

konvergensi media
Apa yang ada dibenak saya saat mendengar konvergensi media? Saya langsung teringat Trans Corp dan MNC. Mengapa? Karena dua contoh di atas merupakan sebuah korporasi popular di Indonesia Trans Corp kini bukan hanya sebuah stasiun televisi swasta saja, tetapi Trans Corp merupakan korporasi media yang menanungi berbagai jenis media dan perusahaan lainnya. Trans Corp memiliki dua buah stasiun televisi dan satu portal berita digital yaitu detik.com. Sedangkan MNC menaungi berbagai macam stasiun televisi, berbagai macam stasiun radio, dan masih banyak lagi media lainnya. Namun apa itu sebenarnya konvergensi media?
Bila melihat pada kehidupan sehari-hari, di Indonesia saat ini bisa ditemui sangat banyak contoh dari konvergensi media. Situs berita yang menyediakan streaming video siaran berita disamping berita teks dan gambar saja, banyak online shopping yang bermunculan, penggunaan smartphone yang semakin merebak di banyak kalangan rakyat Indonesia, hingga munculnya televisi internet (meskipun masih segelintir orang tertentu yang menggunakannya).
Kisah konvergensi media di Indonesia adalah buah dari proses perubahan gradual yang melanda industri media itu sendiri. Efisiensi, perluasan pasar, kecepatan menyiarkan, dan integrasi sumberdaya adalah esensi konvergensi media di Indonesia. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi penopang di bawahnya. Sejumlah perusahaan media cetak mulai serius mengembangkan versi digitalnya. Patut dicatat, hampir satu dekade sebelumnya, beberapa perusahaan suratkabar telah merilis versi online, seperti Republika dan Kompas, namun baru sekadar sebagai komplimentari versi cetak dan belum digarap serius dalam konteks konvergensi media. Perubahan format tersebut dipicu oleh tren multimedia yang dihasilkan teknologi komunikasi melalui kehadiran internet.
Belakangan, internet dan mobile communication menjadikan orang semakin mudah mengakses informasi media melalui aneka platform. Secara umum, dalam kasus Indonesia, konvergensi media berangkat dari basis model suratkabar cetak yang berkolaborasi dengan versi online. Inilah jejak otentik konvergensi media di Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian, kolaborasi surakabar cetak dengan media online, lalu menular dengan mengikutsertakan medium radio dan televisi dalam line up konvergensi. Bahkan, model lain yang berangkat dari majalah cetak dan online juga muncul.
Akar konvergensi media sebagaimana dikutip Aulia Nastiti (2012) mendapat penjelasan dari Dailey, et.al (2005). Menurutnya, konvergensi media merupakan kolaborasi yang terdiri dari lima tahap aktivitas:
1.       cross-promotion
2.       cloning
3.       coopetition
4.       content-sharing
5.       full convergence
Konvergensi media membuat khalayak memiliki lebih banyak pilihan media dengan konten yang semakin beragam pula (Grant dan Wilkinson, 2009). Tidak hanya berkaitan produksi dan konsumsi, konvergensi media juga penanda perubahan berbagai elemen komunikasi: media, kultur, khalayak, teknologi, dan industrinya. Di Bisnis Indonesia, misalnya, yang telah mengaplikasikan konvergensi sejak 2009, model konvergensi dibangun secara multiplatform, multichannel, dan multimedia. Mereka mengkonvergensikan media cetak, radio, outdoor, dan online, serta mobile application sekaligus. Aplikasi konten pun lalu menjadi multichannel, bisa dalam format tablet dan mobile dengan program android dan OS. “Berita atau artikel hasil riset Bisnis Indonesia dipublikasikan melalui berbagai saluran medium tersebut,” tutur Endy Subiantoro, Direktur Pemasaran dan Penjualan Bisnis Indonesia. Benefit dari praktik konvergensi tentu saja memberikan nilai tambah bagi audiens dan memperluas audiens pembaca koran maupun target pasar produk Bisnis Indonesia yang lain.
Konvergensi media –apapun bentuk dan skalanya—pada akhirnya adalah pilihan strategis yang harus ditempuh perusahaan media di Indonesia jika hendak mengembangkan pasarnya (pembaca dan pengiklan) lebih luas di masa depan. Paling tidak ada dua alasan penting menjelaskan hal ini. Pertama, karena keniscayaan teknologi dan perangkat telekomunikasinya yang hadir di depan kita dan tidak bisa dihindarkan. Kedua, karena kultur audience (baca: pasar) yang terus berubah.
Audience hari ini berbeda dengan audience  di masa lalu ketika antara media cetak, penyiaran, dan online belum disatukan oleh jaringan teknologi informasi dan komunikasi. Kini, melalui jasa jaringan telekomunikasi dan informasi, setiap orang bisa mengakses berbagai platform media dalam satu format digital. Efek positif paling besar yang dinikmati perusahaan pers tentu saja berupa ekstensi pasar produk mereka. Pasar menjadi tidak bersekat, melintasi batas-batas geografis.
Pendek kata, keberhasilan meraih pasar semakin besar bagi praktik konvergensi media sangat ditentukan pertama-tama karena faktor (inovasi) konten. Selebihnya, adalah kepemimpinan. Dalam bisnis apapun, kepemimpinan yang kuat dan handal, akan mampu men-drive perusahaan untuk mencapai sukses. Termasuk perusahaan media.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Minggu, 06 Januari 13 - 10:16 WIB
Dalam Kategori : TRANS CORP, MNC, INTERNET, RADIO
Dibaca sebanyak : 2605 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback